Sindikat Mafia tanah yang diotaki I Ketut Sudikerta diduga menerima aliran dana Rp 80 Miliar ketika mendekam di penjara yang

Sindikat Mafia tanah yang diotaki I Ketut Sudikerta diduga menerima aliran dana Rp 80 Miliar ketika mendekam di penjara yang

Mantan Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta telah ditahan oleh Dirkrimsus Polda Bali sejak awalApril 2019 atas kasus penggelapan, pencucian uang dan kasus penipuan yang melibatkan bos Maspion Alim Markus.

Sudikerta diduga keras bersekongkol dengan Anak Agung Ngurah Agung, I Wayan Tana yang merupakan saudara ipar Sudikerta.

Sekarang korban lainnya yaitu PT. Dream Land telah melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri yang melibatkan sindikat yang sama, PT. Dreamland Bali mengklaim bahwa Perseroan telah ditipu oleh sindikat mafia tanah sehingga mengalami potensi kerugian sekitar $ 300 Miliar atau USD 21 Juta dolar atas resor di Uluwatu Bali.

Pada 22 Januari 2019, PT. Dreamland Bali terkejut ketika Pengadilan Negeri Denpasar dengan dibantu aparat kepolisian mengeksekusi Putusan Pengadilan yang tidak melibatkan PT. Dreamland Bali sebagai para pihak dalam gugatan yang dijadikan dasar eksekusi, PT Dreamland Bali sejak itu mengajukan berbagai keberatan dan baru-baru ini mengetahui bahwa pada awal Januari, sindikat tanah Sudikerta secara tidak sah menjual aset PT Dreamland senilai USD 21 Juta (Rp 300 Miliar) kepada investor Cina melalui perusahaan bernama Pt Manor seharga Rp. 80 Miliar (USD 5,8 Juta dolar).

I Ketut Sudikerta – Sindikat Mafia Tanah

Sepertihalnya dalam kasus Maspion, ada pertanyaan bagaimana sindikat mantan Wakil Gubernur I Ketut Sudikerata memiliki Sertifikat tanah yang seharusnya dimiliki oleh PT Dreamland Bali, pada awalnya PT Dreamland Bali tidak mengerti bagaimana aset itu dapat dieksekusi namun, sekarang setelah bukti muncul bahwa I Ketut Sudikerta dan kelompoknya dibayar Rp 80 Miliar setelah secara diam-diam menjual resor PT. Dreamland ke Hedar Giacomo Boy Syam yang mewakili investor Cina. Melibatkan Uang yang sangat banyak yang dapat dimainkan oleh sindikat mafia tanah kelas kakap untuk mempengaruhi penegakan hukum dan menjaga independensi aparat penegak hukum di Indonesia. Peristiwa hukum tersebut sangat meresahkan bagi investor asing mana pun di Indonesiasehingga aset mereka dapat diambil tanpa proses hukum yang kredible dan transparan.

Situasi tersebut dapat menggagalkan ambisi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk mempromosikan investasi asing melalui sektor pariwisata di Indonesia.

Peristiwa tersebut, berawal ketika PT. Dreamland Bali dan Hanno Soth, seorang investor dan pengembang Jerman /Kanada yang terkenal, mempekerjakan I Wayan Tana (saudara ipar Ketut Sudikerta) sebagai direktur berbagai perusahaan termasuk PT. Dreamland Bali sekitar.

Buktinya sekarang menunjukkan bahwa I Wayan Tana menggunakan posisinya sebagai direktur PT. Dreamland Bali dan sementara mewakili Hanno Soth secara pribadi, untuk diam-diam menyusun rencana untuk menipu PT. Dreamland Bali dan aset-aset perusahaan lainnya, untuk mencapai hal itu, Wayan Tana bersekongkol dengan Anak Agung Ngurah Agung dan Otak dari sindikat tanah yaitu I Ketut sudikerata dan kemudian menjual kepada PT. Manor Tirta Puncak yang melibatkan Notaris dan pengacara Sudikerta, dalam kedua kasus tersebut mereka terbukti mendapatkan keuntungan finansial.

 

Wayan Tana bersekongkol dengan Anak Agung Ngurah Agung dan Otak dari sindikat tanah

 

PT. Dreamland Bali telah meminta Bareskrim Mabes Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menyelidiki kasus ini dan melacak kemana sindikat Sudikerta telah menghabiskan Rp 80 Miliar Rupiah dalam 6 bulan terakhir. Perusahaan mengatakan telah mendengar desas-desus tentang di mana jejak uang akan mengarah. Setelah menyelidiki dan penipuan ini didokumentasikan oleh pihak berwenang kami berharap pengadilan akan membuang kasus ini dan mengembalikan aset ke PT. Dreamland Bali dan menghukum para konspirator ini dan pada akhirnya menghentikan hal ini terjadi pada investor asing lainnya.

@thebalitimes

Comments are closed.

The Bali Times

FREE
VIEW